Jakarta terlihat kecil dari lantai 35... Deretan gedung bertingkat terlihat angkuh mengangkangi berdesaknya rumah-rumah kumuh dan kali yang keruh... Tapi langit sore itu sangat bersahabat... biru tenang tanpa awan... dan aku terpana memandangnya... dari ketinggian lantai 35... aku makin merasa kecil saja... bagaimana jika memandang dari ketinggian semesta...???
Jumat, 23 Januari 2009
Memandang Jakarta dari lantai 35
Jakarta terlihat kecil dari lantai 35... Deretan gedung bertingkat terlihat angkuh mengangkangi berdesaknya rumah-rumah kumuh dan kali yang keruh... Tapi langit sore itu sangat bersahabat... biru tenang tanpa awan... dan aku terpana memandangnya... dari ketinggian lantai 35... aku makin merasa kecil saja... bagaimana jika memandang dari ketinggian semesta...???
Minggu, 18 Januari 2009
Ketemu Fariz RM
Dalam program acara resmi Kenduri 80an (ulangtahun milis 80an ke 3), Nama FARIZ RM memang tidak tercantum dalam daftar. Tapi dari bisik bisik Nyai Kartaredja (guni), katanya Mas Faiz bakalan dateng ke acara meskipun belum pasti. So gue langsung bongkar-bongkar koleksi kaset gue untuk nyari kaset-kaset Fariz. Karena gue bongkar-bongkar mendadak pas udah mau jalan, gak semua koleksi kaset Fariz berhasil gue bawa, cuma yang keliatan aja gue samber. Toh Mas Faiz-nya belom tentu dateng, pikir gue. Pas nyampe acara gue tanya Elvy juga belom ada kepastian, jadi gue malah udah hampir lupa. Ehhh... ternyata Mas Faiz beneran datang... langsung lah tanpa membuang kesempatan gue bawa tuh kaset-kaset ke hadapan beliau untuk ditandatangani... lumayan lah ada beberapa kaset :) malah di kaset Soundtrack Lupus IV ada tanda tangan Netta juga secara dia juga dateng ke acara ini.
Thanks Mas Faiz.. thanks Netta... thanks juga milis nistaku tercinta...
Rabu, 14 Januari 2009
Nini Kartisem - SopSan
Kelompok SOPSAN ini ngetop di daerah Banyumas. Lagu-lagunya kocak dengan lirik yang banyumas banget.. dijamin ngakak, apalagi buat orang banyumas atau yang ngerti bahasa banyumas. Lagu NINI KARTISEM ini salahsatu favorit gue dari kelompok ini... yang suka gue dengerin kalo lagi kangen daerah asal hehehe...
Selasa, 06 Januari 2009
L'escargot de la Bastille
Makan siang tadi lumayan spesial. Gara-gara tergoda ajakan temen untuk mencoba makanan Perancis, akhirnya kita meluncur ke L'escargot de la Bastille... baru pernah gue ke tempat ini, dan letaknya juga bukan di tempat strategis, jadi begitu gue nyampe disana gue sempet under estimate secara letaknya sebelahan dengan tambal ban dan warung kelontong. Dari luar juga tempat ini terlihat gak istimewa. Tapi begitu masuk, baru berasa kalo tempat ini gak seperti yang gue kira. Suasana Perancis bener berasa, mulai dari musik yang diputar, sampai ambiance ruangannya. Gak tahan kalo ngeliat tempat asyik kayak gini nggak poto-poto... jadi sambil nunggu escargot (baca: bekicot) pesenan mateng, gue puas-puasin buat foto2. inilah hasilnya.
Senin, 05 Januari 2009
Butuh saran n kritik : my novel
Jam setengah Sembilan malam.
Suasana masih ramai, suara aneka jenis musik bercampur jadi satu, masing-masing terputar keras-keras dari deretan kamar kos. Ada Marylin Manson yang sahut-sahutan dengan Josh Groban dan Project Pop. Lalu suara Tompi bertubrukan dengan Evanescence dan Kangen Band. Malahan kalau lebih konsentrasi, disela-sela nyanyian tubrukan nggak jelas itu, terselip suara Wawa Marisa dengan lagunya Nasib Bunga, kalau yang itu pasti datang dari kamar Arif, anak Cilegon yang memang dangdut mania.
Memang begitulah suasananya. Sepanjang jalan kecil di kawasan Pondok Cina, Depok, itu memang isinya deretan rumah kos. Hampir semua yang kos disitu adalah mahasiswa. Kawasan itu memang dekat dengan kampus-kampus besar, ada Universitas Indonesia dan Universitas Gunadarma. Bahkan mereka-mereka yang kuliah di Universitas Pancasila di Jagakarsa, atau Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) di Lentengagung juga banyak yang memilih kos di daerah itu. Tidak heran nuansa mahasiswa sangat kental di lingkungan ini, perwakilan putra daerah dari seluruh pelosok Indonesia dipastikan ada disini.
Maka wajar saja kalau tidak ada yang protes meskipun hingar bingar tubrukan musik itu terjadi tiap malam. Satu hal yang mustahil terjadi di lingkungan perkampungan biasa.
Suasana hingar bingar malam itu bisa terdengar jelas di sebuah kamar di kosan Pok Umi, tapi kesenyapan tiba-tiba seperti mematikan semua bunyi, dan menggantikannya dengan ketegangan yang mencekam. 4 sosok diam mematung disana. Ada Nolan yang mencoba mengatur napas sambil memandang poster Rihanna di dinding. Ada Rasky yang mencengkeram gitar tanpa berniat membunyikan satu nadapun. Bimo yang terlihat gugup dan bolak-balik membetulkan letak kacamatanya. Sementara Agu, terlihat sangat panik, napasnya terengah-engah, tubuhnya basah oleh keringat.
“Lo koq pada diem sih ? Gimana nih !!!”
Suara Agu akhirnya memecah keheningan dalam hingar bingar itu. Nolan, Bimo dan Rasky serentak menoleh ke arahnya. Cuma sepersekian detik, karena Nolan kembali memandangi Rihanna meskipun pikirannya tidak ada disana. Rasky makin erat mencengkeram gitar.. dan Bimo kembali membetulkan letak kacamata, sambil matanya melirik kearah tangan Agu. Ada lumuran darah disana, merah segar, merah yang lebih mengerikan dari merah darah yang ada di film-film horror. Mata Bimo mengalihkan pandangan dari sana, dia tidak sanggup membayangkan bagaimana tangan itu…
“Kita ke kantor Polisi !”
Bimo berkata tegas. Nolan mengangguk. Rasky mengedipkan mata setuju. Agu melotot.
“Gila lo !! berapa tahun gue bakal di dalem ?? semester depan gue skripsi..”
“Terus lo mau ngapain ? udah tahu semester depan skripsi ngapain lo bertindak nggak waras kayak gini !!”
Nolan berkata lantang. Bibirnya sampai bergetar menahan emosi.
“Kenapa sih lo bisa gila kayak gini, Gu ? kenapa harus gini ??” Bimo menimpali dengan suara tidak kalah gemetar. Sementara Rasky masih tetap diam.
Agu menghela napas gelisah. Tatap matanya nyalang seperti mencari perlindungan. Diacaknya rambutnya yang keriting sehingga lumuran darah itu membasahi sebagian kepalanya. Tiga yang lainnya kembali mengalihkan pandangan, tidak sanggup menatap kepala Agu yang kini sebagian berwarna merah.
“Terus apa rencana lo, Gu ?” Rasky akhirnya angkat bicara.
“Gue mau kabur..”
“Sinting lo !!” Bimo menggelengkan kepalanya, lalu melepas kacamata dan memijit dahinya yang tiba-tiba terasa pening.
“Gue nggak setuju, Gu” Nolan menyambar. “Kita anterin lo ke Polisi. Lo harus nyerahin diri. Dengan cara itu lo bakalan tenang meskipun lo harus ngabisin waktu lo di penjara. Kita akan terus support lo, kita akan nungguin lo sampe keluar..”
“Gue nggak mau dipenjara. Titik.”
“Gu !!” Rasky mencoba bicara tenang. “Kalo lo pengen kabur, mau kabur kemana ? terus mau ngapain ? apa dengan kabur hidup lo bakalan tenang ? nggak bakalan deh… gue yakin lo bakalan kesiksa karena dikejar-kejar rasa bersalah, dan itu nggak bakalan berhenti mau kemanapun lo sembunyi. Kalo udah gitu nggak ada yang bisa nolongin, termasuk kita bertiga..”
Kembali hening dalam hingar bingar.
Dan keheningan itu terasa semakin mencekam.
Mereka selama ini selalu bersama. Sejak kecil mereka terbiasa menghabiskan suka dan duka bersama. Mereka bahkan tidak ingat lagi sejak kapan mereka selalu bersama. Dulu mereka pernah tinggal satu kompleks di Tebet. Sejak mereka bisa mengingat, mereka selalu berempat. Masa TK dan SD dilalui bersama. SMP mulai berpencar. SMA lebih berpencar lagi karena keluarga Agu pindah rumah ke Cipete, dan keluarga Bimo pindah ke pinggiran Bekasi. Tapi mereka masih tetap bersatu.
Bahkan ketika kuliah, mereka memilih kuliah di tempat yang berdekatan supaya bisa terus bersama. Nolan kuliah di Sastra Inggris UI, Agu di Manajemen Informatika Universitas Gunadarma, Bimo di Fakultas Hukum Universitas Pancasila, dan Rasky di Hubungan Internasional IISIP Jakarta. Mereka kemudian kos di tempat yang sama, 4 kamar dalam satu sudut berhadapan, di kosan Pok Umi di jalan Pinang, Margonda Raya, Depok.
Persahabatan mereka sudah sangat teruji. Berantem-berantem dan konflik diantara mereka sering terjadi, dan selalu bisa diatasi. Tapi mereka belum pernah mengalami goncangan sehebat ini !
Sepuluh menit lalu Nolan, Bimo dan Rasky masih tertawa-tawa sambil genjrang genjreng main gitar di kamar Bimo. Dari kamar sebelah, kamar Agu, Larc n Ciel terputar kencang-kencang, sehingga tidak terdengar suara-suara lain dari sana. Semuanya serba biasa, sampai tiba-tiba Agu menyeruak masuk kamar Bimo sambil terengah-engah. Wajahnya pias, keringat bercucuran, mulut ternganga tapi tanpa suara, dan tangannya… tangannya menggenggam pisau berlumuran darah..
Tanpa bertanya, Nolan, Bimo dan Rasky melesat ke kamar Agu, dan disana mereka serempak istighfar. Di ranjang tergolek tubuh Mita, dengan mata melotot mengerikan dan leher menganga mengucurkan darah segar.
Mita sudah mati.
Selasa, 30 Desember 2008
3 Doa 3 Cinta
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Drama |
Sutradara : Nurman Hakim
Penata Musik : Djaduk Ferianto
Produser : Nan Achnas, Nurman Hakim, Adiyanto Sumarjono
Produksi : Triximages
Pemain : Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Yoga Bagus Satatagama, Brohisman, Hessa Nurhayati, Butet Kartaredjasa, Jajang C. Noor
Melihat perkembangan film nasional belakangan ini memang terlihat menggembirakan. Terlepas dari sisi kualitas yang masih terus dipertanyakan, setidaknya kuantitas produksi yang terus meningkat menandakan bahwa film Indonesia sudah kembali menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Jadi meskipun tema hantu-hantuan dan komedi seks masih berseliweran di bioskop, tapi munculnya beberapa film dengan tema yang berbeda menjadi semacam penyegaran, salahsatunya adalah 3 DOA 3 CINTA. Film yang ditulis dan disutradarai oleh sineas muda NURMAN HAKIM ini mengambil tema yang jarang disentuh, tentang dunia pesantren. Bukan sekadar tempelan setting, tapi film ini memang sepertinya ingin mengungkap ada apa dibalik pagar pesantren, kehidupan para santri, usaha pimpinan pondok yang mencari ‘pewaris’ dengan berbagai cara, bagaimana juga pesantren bisa disusupi oleh gerakan Islam radikal, atau bahkan juga pelecehan seksual di pesantren. Semua itu dikemas dalam gambar-gambar yang sederhana tapi kaya makna, serta akting para pemain yang terjaga.
Adalah tiga sahabat : Huda (Nicholas Saputra), Rian (Yoga Pratama) dan Sahid (Yoga Bagus), mereka baru saja menyelesaikan masa mondok mereka di pesantren dan masing-masing punya cita-cita sendiri. Huda berkeinginan mencari sang Ibu yang meninggalkannya ke Jakarta tanpa kabar. Rian ingin meneruskan usaha studio foto milik almarhum ayahnya, serta Sahid yang ingin mati syahid sesuai dengan namanya. Mereka bertiga selalu menuliskan cita-cita dan harapan mereka di sebuah tembok tersembunyi di belakang pondok. Dalam perjalanan mencapai cita-cita mereka itu, berbagai kejadian mewarnai, dari yang lucu, sedih, sampai tragis. Semua itu terbingkai oleh sebuah handycam milik Rian yang menjadi saksi berbagai kejadian tak terduga, yang bahkan berujung ke kepolisian dan penjara.
Mungkin banyak orang yang mempunyai espektasi lebih ketika menyaksikan poster film ini yang memajang nama dan foto besar NICHOLAS SAPUTRA dan DIAN SASTROWARDOYO. Di benak kita mungkin akan terbayang film drama ala AYAT AYAT CINTA yang dimainkan oleh duo yang melejit lewat ADA APA DENGAN CINTA itu. Sampai sepertiga bagian film, barangkali kita juga masih mengharapkan kalau akhirnya dua tokoh itu bakal benar-benar jadian. Tapi ketika sepertiga terakhir film dan tempo bergerak cepat, lalu kita ‘digoda’ lagi dengan harapan itu ketika di penghujung film tokoh Dona (Dian Sastrowardoyo) dimunculkan lagi. Bagi yang punya espektasi itu mungkin bisa saja kecewa. Apalagi yang mengharapkan cerita romansa yang bikin termehek-mehek. Kita memang disuguhi adegan yang menyiratkan bagaimana sebenarnya cinta antara Huda dan Dona tumbuh. Chemistry antara mereka terlihat alamiah dan sebenarnya indah. Barangkali hal itu yang membuat kita ‘kecewa’ pada ending kisah mereka. Tapi memang begitulah, film ini memang bukan film drama romantis.
Film ini lumayan cermat dalam hal-hal kecil. Setting waktu film ini terjadi pada tahun 2001, dan itu benar-benar diperhatikan. Ketika scene Huda memegang uang, terlihat uang kertas pecahan 500 dan 1000 rupiah yang sudah tidak berlaku lagi sekarang, sehingga benar-benar mengesankan setting film itu bukan kekinian. Bahkan ketika scene di warung dan TV menyala, logo SCTV yang muncul juga masih menggunakan tagline NGETOP, itu adalah tagline yang dipakai saat itu. Meskipun mungkin tidak begitu diperhatikan penonton, tapi diperhatikannya detil-detil kecil semacam ini membuktikan keseriusan kerja awak film. Keseriusan lain adalah upaya para pemain film untuk lebur dengan tokoh yang mereka mainkan. NICHOLAS SAPUTRA berhasil bertransformasi menjadi sosok santri yang santun, dengan penguasaan bahasa jawa yang mengagumkan (entah kalau memang Nico bisa berbahasa jawa ?). Saya juga tidak tahu apakah Nico seorang muslim atau bukan, tapi kalau Nico bukan seorang muslim, kemampuannya memerankan seorang santri di film ini layak diacungi jempol. Yang juga membuat kejutan adalah DIAN SASTROWARDOYO. Meskipun medok jawanya tidak begitu pas dan terlihat dibuat-buat, tapi totalitasnya menjadi penyanyi dangdut keliling dengan nama panggung DONA SATELIT sungguh mengejutkan. Bukan hanya bernyanyi dangdut dengan suaranya sendiri, tapi juga goyangan panggungnya benar-benar mencitrakan penyanyi dangdut panggung pasar malam. Lagu yang dibawakannya juga sangat ‘meracuni’ telinga, dengan lirik “Demi cita –cita… kurela tinggalkan cinta…” langsung tertancap di memori. Dibandingkan dengan TITI KAMAL dalam MENDADAK DANGDUT, boleh dibilang penampilan Dian lebih dangdut dari segi suara dan goyangan.
Tokoh lain juga tidak kalah cemerlang. Sosok RIAN berhasil dimainkan cemerlang oleh YOGA PRATAMA, tidak heran dia berhasil menggondol piala citra FFI 2008 untuk aktor pembantu terbaik. YOGA BAGUS yang memerankan SAHID juga tidak mengecewakan. Begitu juga dengan penampilan para bintang tamu seperti BUTET KARTARADJASA atau JAJANG C. NOOR, mereka bermain pas sesuai karakter. Dan meskipun sebagian besar pendukung film ini adalah nama-nama baru, tapi akting mereka bisa ‘dijaga’ dengan baik oleh sang sutradara.
Meskipun ending film ini membuat dahi berkerut karena memang sangat menggantung, tapi film ini membawa banyak pesan moral. Sindiran-sindiran soal fenomena poligami juga ditampilkan di film ini dengan halus tapi menohok. Film ini juga berhasil memotret bagaimana kejadian di sebuah pesantren yang mungkin masih gelap bagi mereka yang tidak pernah masuk ke dalamnya.
3 DOA 3 CINTA… 4 BINTANG dari saya…